Kamis, 15 Desember 2011

Cobaan Tanda Cinta dari Tuhan


Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya balasan yang agung terdapat dalam cobaan yang besar, dan  jika Allah Swt  mencintai suatu golongan maka Dia akan memberikan cobaan padanya. Barangsiapa yang ridla/menerimanya maka Allah juga ridla padanya. Barang siapa yang benci, maka Allah juga membencinya.” (HR. Turmudzi)
Semua orang pernah mengalami masa sulit dalam hidupnya, beragam masalah yang menumpuk di kepala terkadang membuat jiwa merasa tertekan. Apalagi Tuhan tidak pernah libur menguji manusia dengan cobaan-cobaan-Nya. Dalam kondisi demikian, kadang kita merasa lemah dan membutuhkan sandaran yang tepat. Bisikkan dalam hati, hanya Tuhan-lah yang tepat untuk dijadikan peraduan pertama. Tempat semua persoalan bermuara. Namun kadang kesadaran itu pula tak bisa (langsung) membuat kita tenang. Kita masih memerlukan lagi pijakkan untuk mengamini kebenaran Tuhan sebagai satu-satunya sandaran dan memantapkan keyakinan itu agar tak goyah.
Realita hidup yang pernah dialami manusia zaman dahulu sudah sepantasnya menjadi acuan kita. Sebab, keberadaan mereka adalah gambaran dari Tuhan agar dijadikan pertimbangan dan pelajaran bagi generasi selanjutnya. Kita bisa bercermin kepada Para Rasul Ulul Azmi (Rasul yang memiliki derajat kesabaran yang tinggi), yaitu Nabi Muhammad Saw, Isa as., Musa as., Ibrahim as., dan Nabi Nuh as. Sepanjang hidupnya, mereka kerap disuguhi beragam cobaan ekstra berat, namun semua itu menjadikannya sosok yang paling mulia. Padahal, tanpa harus melalui cobaan yang berat, mereka mungkin-mungkin saja digolongkan Rasul yang termulia di sisi-Nya. Ini merupakan bentuk keadilan Allah Swt, karena siapa pun pasti diberi cobaan. Nabi Muhammad misalnya, sebagai manusia paling mulia, beliau bisa saja memohon kepada Allah agar semua makhluk tunduk kepada ajarannya. Namun, beliau menyadari sifat manusiawi yang menempel dalam diri umatnya, semua membutuhkan pengorbanan demi mencapai puncak kebahagiaan. Tidak lain hal demikian yang bisa dijadikan sebuah iktibar  bagi umat-umatnya.
Allah Swt memberikan cobaan sesuai dengan porsinya. Artinya, tidak ada satu cobaan pun di luar kemampuan manusianya itu sendiri. Antara individu satu dengan lainnya diberikan kwantitas cobaan yang berbeda. Kita, sebagai orang awam tidak akan mendapatkan cobaan seberat cobaan para Rasul, juga sebaliknya. Sebagaimana firman Allah yang terukir dalam lauh mahfudz, Allah tidak akan menzalimi terhadap makhluk-Nya.
Sejauh ini, kata cobaan terjadi penyempitan makna atau bisa jadi salah penafsiran. Ketika orang berkata ‘ini cobaan dari-Nya’, kata ‘cobaan’ seakan bermakna hanya yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan yang membebani dan menghalangi ketentraman hidup saja. Padahal, kekayaan, jabatan, ketokohan, dan banyak hal lainnya, pada dasarnya juga termasuk dari cobaan. Bahkan, semua yang telah dianugerahkan kepada manusia secara tidak langsung juga merupakan bagian dari sebuah cobaan.
Seseorang yang berparas ayu misalnya, ia sebenarnya sedang diuji apakah ia mau bersyukur atau tidak. Apakah justru dengan kecantikan itu dia sombong atau tidak. Pun, ketika seseorang dianugerahi fisik yang kurang normal, dia bisa bersabar atau tidak dalam menerima takdirnya tersebut. Sederhananya, cobaan akan selalu mengitari kehidupan kita selama hidup di dunia. Sebab, dunia adalah tempatnya cobaan. Namun begitu, Tuhan selalu menyertakan peluang dan solusi yang terselip dalam setiap cobaan yang diberikan kepada hamba-Nya.

Menjadi yang Terbaik
Di bulan yang mulia ini, dunia Islam diwarnai momen-momen penting yang terjadi bertepatan dengan 10 Muharram. Salah satunya, Nabi Nuh dan pengikut setianya diselamatkan dari semburan air adzab, yakni air bah yang diturunkan Allah selama 13 hari, sebagai ganjaran bagi kaumnya yang tidak mau beriman. Dalam berdakwah menegakkan agama  Allah, Nabi Nuh mendapat hadangan keras dari anak dan istrinya. Tidak cukup sampai di situ, setelah berdakwah puluhan tahun, hanya mendapat beberapa orang pengikut saja. Siang malam beliau berdoa supaya orang tercinta dan kaumnya mendapat hidayah. Namun, ternyata Allah memberikan jalan lain. Tidak ada guratan keputusasaan pada wajahnya. Nabi Nuh tetap bersabar dan tak henti berdoa, lantas beliau pasrahkan semua keputusan pada-Nya.
Dari kisah di atas, Tuhan mengajarkan kepada kita untuk tetap bersabar dan ikhlas dalam menerima cobaan dari-Nya. Kita tidak diperintah untuk mudah putus asa dan ataupun mengeluh dalam menghadapinya. Karena putus asa hanya akan membuat suatu permasalahan bertambah ruwet. Sebagimana firman-Nya, “Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir. (Q.S. Yusuf; 87)
 Sabar adalah menerima dengan sepenuhnya terhadap apa yang telah digariskan Allah. Lebih jauh, Syekh Muhammad bin Qasim dalam kitabnya Mauidzotul Mu’minin menyatakan, bahwa dalam keadaan bagaimanapun manusia pasti membutuhkan kesabaran, baik dalam hal yang sejalan dengan hawa nafsu ataupun yang bertentangan dengannya. Misalnya saja, jabatan. Manusia harus bisa bersabar demi mengemban amanah tersebut, menjadikan jabatan sebuah bentuk pengabdian kepada masyarakat luas, bukan sebaliknya. Yakni, dijadikan ladang untuk mengeruk dan menghabiskan uang rakyatnya. Juga dalam hal ketaatan, kita juga dituntut untuk bisa bersabar dalam menjalani perintah-Nya. Tidak meninggalkan salat di tengah kesibukan kerja misalnya, tentunya ini berat sekali.    
Di samping harus bersabar, doa menjadi senjata penguat. Doa adalah satu-satunya senjata bagi orang mukmin untuk melenyapkan semua keresahan dalam hati. Ya, curhat yang tepat bagi orang-orang mukmin adalah dengan berdoa. Karena, hanya Allah bersedia dengan tulus mendengar jeritan hati kita, apapun itu. “Berdoalah kalian, maka Aku akan mengabulkannya,” demikian firman Tuhan. Dengan kekuatan doa, insya Allah permasalahan akan menemukan solusinya. Kita yakin bahwa Allah pasti mengabulkan doa kita, cepat atau lambat.
Sebagaimana kita yakini, Tuhan memiliki hak preogratif, mungkin-mungkin saja Dia memberikan cobaan paling dibenci oleh kita sekalipun. Namun, bukan berarti Tuhan tidak sayang kepada hamba-Nya. Justru dengan jalan demikian manusia lebih mengenali dirinya dan menjadikan kita sosok yang lebih kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan, asal kita menyikapinya dengan bijak.
Menghadapi sebuah cobaan dianalogikan merawat tanaman yang hidup di tanah tandus. Supaya tanaman itu tumbuh dengan baik, maka dibutuhkan sebuah perawatan yang ekstra. Sulit memang, apalagi mengharapkan tanaman itu berbunga. Begitu juga untuk menjadi hamba yang di cintai-Nya, tidak semudah membalikan telapak tangan. Hanya orang tertentu saja yang mampu menghirup wangi cinta-Nya.
   “Tidak ada kata terlambat,” demikian orang bijak berkata. Kesempatan untuk mengevaluasi dan introspeksi masih terbuka selama kita mau berubah. Karena pada dasarnya, Tuhan lebih mencintai orang yang mau memperbaiki diri untuk bangkit dari keterpurukan. Nah, Muharram adalah waktu yang tepat untuk melangkah dengan optimis, dan belajar dari segenap kesalahan dari tahun sebelumnya. Supaya kita digolongkan umat yang terbaik dan dicintai-Nya. Semoga. Wallahu a’lam bisshawaab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar