Siapa yang
tidak ingin jadi orang yang terkenal. Setiap hari wajahnya tampil sumringah di
layar kaca, media massa dan media cetak lainnya. Seolah yang ada didunia ini
hanyalah dia. Semua pemberitaan beralih padanya. Pandangan mata terhipnotis,
melebihi hipnotis yang diluncurkan Uya emang Kuya. Lantas terkenal itu anugerah atau musibah?
Beberapa hari
yang lalu muncul sosok Sakh Rukh Han di
Indonesia. Norman, seorang Briptu polisi dari Gorontalo memeragakan (lipsing)
lagu Chaiyya-chaiyya yang dipopulerkan oleh bintang film India tersebut. Meski
tidak seindah menonton Sah Ruh Khan yang asli, namun tidak sedikit juga yang
berlomba untuk mengaplaud video artis dadakan itu. Entah apa motif dibalik
pengunduhan ini.
Saya
ikut-ikutan mengunduhnya (karena memang
iku-ikutan merupakan budaya kita), hal yamg pertam kali melintas dalam benakku adalah menjadi terkenal untuk
saat ini itu susah-susah gampang. Susah bagi mereka yang sudah bertahun-tahun
ingin sekali menjadi terkenal, tapi belum tiba juga gilirannya. Dan gampang
bagi yang sudah ditakdirkan untuk meroket, hanya dengan hitungan detik saja.
Ikut-ikutan
ataupun tidak para penikmat setia dari chaiya-chaiyya ini terus bertambah.
Hanya penasaran yang ada dalam hati para penikmatnya, yach meski tidak semua
menikmatinya sengan lahap. Tidak jarang mulut keluar dengan sendirinya
mengatakan, kok bisa dia terkenal hanya dengan komat-kamit mulutnya saja. Hah,
inilah keajaiban dalam dunia yang penuh instan ini.
Sekarang dunia
bias digenggam cukup hanya dengan waktu beberapa detik saja. Itupun tidak
mengeluarkan tenaga dan atau materi yang ekstra. Inilah keajaiban, hanya orang
tertentu saja yang bias mendapatkan semacam ini.
Keajaiban
datang 1000:1, apakah kita yang akan tergilir menjadi yang terkenal atau kita
yang harus antre ratusan meter di belakang. Keajaiban tidak perlu dicari karena
Tuhan sudah memilihkannya bagi yang sudah terpilih. Berharap banyak meraih
keajaiban merupakan perbuatan yang sangat konyol. Untuk menjadi juara dalam
pertarungan membutuhkan usaha dan perjuangan yanag tinggi, sehingga lebih
berasa nilainya.
Masyarakat
kita nampaknya sudah mulai menghargai aksi orang lain, respon yang berdatangan
dari penjuru negeri ini terhadap sajian yang diunduh dari dunia maya kebanyakan
menilai positif, meski tidak dipungkiri banyak juga yang yang menilia negatif.
Pujian dan cemoohan tak bias lari dari kehidupan ini. Setiap saat bisa menempel
dalam tubuh seseorang.
Apresiasi yang
berlebih akan mengakibatkan efek buruk juga bagi perkembangan manusia itu
sendiri. Kita hanya bisa berpikir bagaimana cara kita bisa terkenal hanya
dengan beberapa jam saja. Pikiran manusia modern memang berorentiasi terhadap
materi. Tidak memikirkan lebih jauh tentang masa dimana manusia akan merasa
asing terhadap dirinya (hari kelak).
Sebagian orang
berpendapat mereka yang mengekspresikan
aksinya di dunia maya hanyalah orang yang pengangguran, iseng, dan kurang
kerjaan. Ungkapan itu tidak sepenuhnya disalahkan, karena toh masih banyak para
pengangguran yang menjamur di negeri kaya ini. Namun, sekali lagi ditegaskan
ekspresi yang berlebih akan menimbulkan hati kita tertarik untuk bisa terkenal
secara instan, dan yang terpikir hanya materi-dan materi.
Berguru pada
sebuah iklan, bahwa jalan pintas itu dianggap pantas itu benar terjadi. Dan
yang instan ini yang dipilih oleh manusia. Bagiamana berpikir untuk cepat
menyentuh garis finish, meski melewati jalan yang dilarang sekalipun. Jalan
pintas memang menggiurkan semua pihak, terlebih yang hanya hidup karena
mengejar kesenangan dunia semata.
Banyak
bekerja
Tuhan lebih
mencintai hambanya yang giat berusaha, jerih payah, dan keringat yang
mengirinya mencapai kesuksesan. Dalam prinsip Islam hal yang membutuhkan
pekerjaan ekstra, maka banyak pula fadhilah/keutamaannya. Dalam arti
perjuangan yang keras dan jalan pintas adalah hal yang berlawanan, mahkluk yang
berpikiran cerdas tentu tidak akan pernah memilih mencontek, dia lebih memilih
untuk belajar guna mencapai titik kepuasannya.
Pekerja keras
lebih bernilai dihadapan manusia dan lebih dikenang. Orang yang harus
mempertaruhkan nyawa demi mempertaruhkan
hidup, lebih dihargai daripada para koruptor yang bergelimang harta. Karena ia
telah melawati masa menuju juara yang terjal. Sehingga masa manis sang juara itu
lebih terasa dan bernilai, pun bagi dirinya.
Manusia secara
naluri ingin jalan yang pintas. Sebagaimana jalan yang telah dilewati oleh Briptu
Norman diatas, meski memetik bintang mustahil terjadi. Namun siapa yang tahu
anugerah terindah dari Tuhan ini jatuh ke siapa? Tanpa mengeluarkan energy yang
ekstra akan mendapat kado indah, yakni terkenal.
Banyak juga
yang memberikan apresiasi kepada Briptu
Norman, kesan wajah seram kepolisian Republik Indonesi sedikit redup karena
hadirnya Briptu Norman dengan gaya yang
menghibur masyarakat. Banyak yang suka terhadap gaya manis yang diperagakannya.
Sekarang
mungkin Briptu Norman bukan orang biasa lagi, anugerah terkenal ini seyogyanya
tidak berujung musibah. Karena dunia keartisan merupakan kubangan jebakan yang
dalam. Siapa yang tidak bias mensiasati akan terjebak dan terjatuh ke dalamnya.
Semua
dikembalikkan pada kita yang menilai, menangkap bintang jatuh hanyalah factor
kebetulan. Kita tidak boleh terlalu mengharap bisa menangkap bintang jatuh
dalam genggaman kita. Berbuatlah hal-hal yang mungkin saja, jangan terlalu
berharap kesuksesan akan kita raih kalau kita tidak mau bekerja keras dan
berdo’a. Biarlah mereka yang terpilih mendapatkan kado terkenal dari Tuhan, toh
itu semua hanya sementara. Teruslah belajar dan berdo’a.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar