Sabtu, 22 Oktober 2011

TERKENAL atau TIDAK SELAMANYA


Siapa yang tidak ingin jadi orang yang terkenal. Setiap hari wajahnya tampil sumringah di layar kaca, media massa dan media cetak lainnya. Seolah yang ada didunia ini hanyalah dia. Semua pemberitaan beralih padanya. Pandangan mata terhipnotis, melebihi hipnotis yang diluncurkan Uya emang Kuya.  Lantas terkenal itu anugerah atau musibah?

Beberapa hari yang lalu  muncul sosok Sakh Rukh Han di Indonesia. Norman, seorang Briptu polisi dari Gorontalo memeragakan (lipsing) lagu Chaiyya-chaiyya yang dipopulerkan oleh bintang film India tersebut. Meski tidak seindah menonton Sah Ruh Khan yang asli, namun tidak sedikit juga yang berlomba untuk mengaplaud video artis dadakan itu. Entah apa motif dibalik pengunduhan ini.
Saya ikut-ikutan  mengunduhnya (karena memang iku-ikutan merupakan budaya kita), hal yamg pertam kali melintas  dalam benakku adalah menjadi terkenal untuk saat ini itu susah-susah gampang. Susah bagi mereka yang sudah bertahun-tahun ingin sekali menjadi terkenal, tapi belum tiba juga gilirannya. Dan gampang bagi yang sudah ditakdirkan untuk meroket, hanya dengan hitungan detik saja.
Ikut-ikutan ataupun tidak para penikmat setia dari chaiya-chaiyya ini terus bertambah. Hanya penasaran yang ada dalam hati para penikmatnya, yach meski tidak semua menikmatinya sengan lahap. Tidak jarang mulut keluar dengan sendirinya mengatakan, kok bisa dia terkenal hanya dengan komat-kamit mulutnya saja. Hah, inilah keajaiban dalam dunia yang penuh instan ini.
Sekarang dunia bias digenggam cukup hanya dengan waktu beberapa detik saja. Itupun tidak mengeluarkan tenaga dan atau materi yang ekstra. Inilah keajaiban, hanya orang tertentu saja yang bias mendapatkan semacam ini.
Keajaiban datang 1000:1, apakah kita yang akan tergilir menjadi yang terkenal atau kita yang harus antre ratusan meter di belakang. Keajaiban tidak perlu dicari karena Tuhan sudah memilihkannya bagi yang sudah terpilih. Berharap banyak meraih keajaiban merupakan perbuatan yang sangat konyol. Untuk menjadi juara dalam pertarungan membutuhkan usaha dan perjuangan yanag tinggi, sehingga lebih berasa nilainya.
Masyarakat kita nampaknya sudah mulai menghargai aksi orang lain, respon yang berdatangan dari penjuru negeri ini terhadap sajian yang diunduh dari dunia maya kebanyakan menilai positif, meski tidak dipungkiri banyak juga yang yang menilia negatif. Pujian dan cemoohan tak bias lari dari kehidupan ini. Setiap saat bisa menempel dalam tubuh seseorang.
Apresiasi yang berlebih akan mengakibatkan efek buruk juga bagi perkembangan manusia itu sendiri. Kita hanya bisa berpikir bagaimana cara kita bisa terkenal hanya dengan beberapa jam saja. Pikiran manusia modern memang berorentiasi terhadap materi. Tidak memikirkan lebih jauh tentang masa dimana manusia akan merasa asing terhadap dirinya (hari kelak).
Sebagian orang berpendapat  mereka yang mengekspresikan aksinya di dunia maya hanyalah orang yang pengangguran, iseng, dan kurang kerjaan. Ungkapan itu tidak sepenuhnya disalahkan, karena toh masih banyak para pengangguran yang menjamur di negeri kaya ini. Namun, sekali lagi ditegaskan ekspresi yang berlebih akan menimbulkan hati kita tertarik untuk bisa terkenal secara instan, dan yang terpikir hanya materi-dan materi.

Berguru pada sebuah iklan, bahwa jalan pintas itu dianggap pantas itu benar terjadi. Dan yang instan ini yang dipilih oleh manusia. Bagiamana berpikir untuk cepat menyentuh garis finish, meski melewati jalan yang dilarang sekalipun. Jalan pintas memang menggiurkan semua pihak, terlebih yang hanya hidup karena mengejar kesenangan dunia semata.
Banyak bekerja
Tuhan lebih mencintai hambanya yang giat berusaha, jerih payah, dan keringat yang mengirinya mencapai kesuksesan. Dalam prinsip Islam hal yang membutuhkan pekerjaan ekstra, maka banyak pula fadhilah/keutamaannya. Dalam arti perjuangan yang keras dan jalan pintas adalah hal yang berlawanan, mahkluk yang berpikiran cerdas tentu tidak akan pernah memilih mencontek, dia lebih memilih untuk belajar guna mencapai titik kepuasannya.
Pekerja keras lebih bernilai dihadapan manusia dan lebih dikenang. Orang yang harus mempertaruhkan nyawa  demi mempertaruhkan hidup, lebih dihargai daripada para koruptor yang bergelimang harta. Karena ia telah melawati masa menuju juara yang terjal. Sehingga masa manis sang juara itu lebih terasa dan bernilai, pun bagi dirinya.
Manusia secara naluri ingin jalan yang pintas. Sebagaimana jalan yang telah dilewati oleh Briptu Norman diatas, meski memetik bintang mustahil terjadi. Namun siapa yang tahu anugerah terindah dari Tuhan ini jatuh ke siapa? Tanpa mengeluarkan energy yang ekstra akan mendapat kado indah, yakni terkenal.
Banyak juga yang memberikan apresiasi kepada  Briptu Norman, kesan wajah seram kepolisian Republik Indonesi sedikit redup karena hadirnya Briptu Norman dengan gaya yang  menghibur masyarakat. Banyak yang suka terhadap gaya  manis yang diperagakannya.
Sekarang mungkin Briptu Norman bukan orang biasa lagi, anugerah terkenal ini seyogyanya tidak berujung musibah. Karena dunia keartisan merupakan kubangan jebakan yang dalam. Siapa yang tidak bias mensiasati akan terjebak dan terjatuh ke dalamnya.
Semua dikembalikkan pada kita yang menilai, menangkap bintang jatuh hanyalah factor kebetulan. Kita tidak boleh terlalu mengharap bisa menangkap bintang jatuh dalam genggaman kita. Berbuatlah hal-hal yang mungkin saja, jangan terlalu berharap kesuksesan akan kita raih kalau kita tidak mau bekerja keras dan berdo’a. Biarlah mereka yang terpilih mendapatkan kado terkenal dari Tuhan, toh itu semua hanya sementara. Teruslah belajar dan berdo’a.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar