Sabtu, 22 Oktober 2011

PESANTREN SARANG TERORIS....?


Bangsa kita gampang sekali gempar dengan segala macam stigma dan  yang diluncurkan oleh segelintir oknum guna memecah belah salah satu pihak yang menjadi targetnya. Stigma yang mencuat bahwa pesantren adalah sarang teroris sampai detik ini masih terdengar nyaring di telinga kita. Namun seolah pesantren memiliki benteng yang kuat untuk menangkal serangan yang memojokkan nama harumnya. Segala tuduhan negatif selalu mentah ditelannya. Ini merupakan fakta kalau pesantren selalu berusaha untuk memaujakan dan menjaga kehormatan bangsa di mata dunia.
Aksi bom yang kerap terjadi di Indonesia belakangan ini berasal dari suatu oknum yang mengatasnamakan Islam, mereka berdalih ingin membersihkan instansi-instansi pemerintah dan atau tidak puas dengan kinerja pemerintah saat ini. Kemudian mereka meluapkan rasa selalu benar sendiri dengan mematikan gerak pihak yang di matanya bersalah.
Sebagai sampel, pelaku bom buku dan bom bunuh diri di masjid Adzikra, Cirebon ternyata komplotan yang dari kelompok itu-itu juga. Kuatnya rasa persatuan dari kepala sampai ke akarnya dalam diri mereka terpancing oleh semangat jihad yang dikenalkan oleh pemimpin kelompok tersebut. Namun dibelakang biodata pelaku selalu tertulis alumni salah satu pondok pesantren.
Memang terdapat ribuan pesantren di Nusantara yang masih eksis sampai saat ini, tentunya dengan jenis dan latar yang berbeda. Namun, mayoritas pesantren di Indonesia di bawah naungan Ahlussunah wal Jama’ah. Nah, sebagian yang lain ini milik beragam oknum yang tidak jelas arah dan latar belakangnya. Tuduhan miring terhadap pesantren saat ini seakan menyerang pesantren dalam naungan NU, karena disamping mayoritas pesantren berwajah NU juga sebagian kalangan ada yang memprofokasi  untuk menjatuhkan nama pesantren NU, khususnya.
JANGAN MENUDING PESANTREN
Sejarah telah membuktikan kalau pesantren bersih dari tindak criminal dan atau yang berkaitan dengan penghacuran suatu Negara. Dari awal berdirinya focus pesantren yakni membentuk insan yang berakhlak dan berpengetahuan luas tentang Islam, tidak ada misi khusus yang lain. Dan seluruh lapisan pesantren telah sepakat kalau keutuhan NKRI adalah harga mati, tidak bisa ditawar lagi.
Secara historis pesantren juga menjadi kunci penting lahirnya bangsa Indonesia , segenap perjuangan telah dikerahkan demi memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Sepertiyang terjadi pada saat Agresi Militer II Belanda, pasukan santri dibawah komando para kiyai terjun langsung dalam pertempuran di Surabaya melewan tentara Belanda, pimpinan Jend. Mallaby. Ironis sekali kalau pesantren berbalik arah, menghancurkan Negara ini.
Nilai idiologis yang  menancap dalam tubuh pesantren tidak mudah goyah, meski usia pesantren tidak muda lagi dan derasnya laju zaman, itu semua tidak menyebabkan pesantren kian jauh dari prinsip dasarnya. Tudingan-tudingan miring pun lambat laun akan terpatahkan dengan sendirinya.
Yang dapat diambil dari kesimpulan di lapangan, pesantren sama sekali tidak ada indikasi untuk mengarah ke arah profokasi kekerasan, criminal, atau terorisme. Ini jauh dari fakta yang ada. Ada beberapa factor :
Pertama, dari segi idiologis pesantren lahir untuk kedamaian dan focus membentuk insane yang kamil. Sebgaimana yang telah disinggung diatas. Kedua, pesantren tidak diajrkan kurikulum yang berlwanan dengan negara/radikalisme. Ketiga, sifat keramahan dalam pesantren menjadi symbol saejuknya kedamaian dalam lingkungannya. 
Islam tumbuh dari pesantren. Mengerti Islam  berarti memahami nasionalisme. Islam mengajarkan nasionalisme yang tinggi. Maka, kedamaian dan ketentraman muncul dalam ranah pesantren, itu nyata!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar