Bangsa kita
gampang sekali gempar dengan segala macam stigma dan yang diluncurkan oleh segelintir oknum guna
memecah belah salah satu pihak yang menjadi targetnya. Stigma yang mencuat
bahwa pesantren adalah sarang teroris sampai detik ini masih terdengar nyaring
di telinga kita. Namun seolah pesantren memiliki benteng yang kuat untuk
menangkal serangan yang memojokkan nama harumnya. Segala tuduhan negatif selalu
mentah ditelannya. Ini merupakan fakta kalau pesantren selalu berusaha untuk
memaujakan dan menjaga kehormatan bangsa di mata dunia.
Aksi bom yang
kerap terjadi di Indonesia belakangan ini berasal dari suatu oknum yang
mengatasnamakan Islam, mereka berdalih ingin membersihkan instansi-instansi
pemerintah dan atau tidak puas dengan kinerja pemerintah saat ini. Kemudian
mereka meluapkan rasa selalu benar sendiri dengan mematikan gerak pihak
yang di matanya bersalah.
Sebagai
sampel, pelaku bom buku dan bom bunuh diri di masjid Adzikra, Cirebon ternyata
komplotan yang dari kelompok itu-itu juga. Kuatnya rasa persatuan dari kepala
sampai ke akarnya dalam diri mereka terpancing oleh semangat jihad yang
dikenalkan oleh pemimpin kelompok tersebut. Namun dibelakang biodata pelaku
selalu tertulis alumni salah satu pondok pesantren.
Memang
terdapat ribuan pesantren di Nusantara yang masih eksis sampai saat ini,
tentunya dengan jenis dan latar yang berbeda. Namun, mayoritas pesantren di
Indonesia di bawah naungan Ahlussunah wal Jama’ah. Nah, sebagian yang lain ini
milik beragam oknum yang tidak jelas arah dan latar belakangnya. Tuduhan miring
terhadap pesantren saat ini seakan menyerang pesantren dalam naungan NU, karena
disamping mayoritas pesantren berwajah NU juga sebagian kalangan ada yang
memprofokasi untuk menjatuhkan nama
pesantren NU, khususnya.
JANGAN
MENUDING PESANTREN
Sejarah telah
membuktikan kalau pesantren bersih dari tindak criminal dan atau yang berkaitan
dengan penghacuran suatu Negara. Dari awal berdirinya focus pesantren yakni
membentuk insan yang berakhlak dan berpengetahuan luas tentang Islam, tidak ada
misi khusus yang lain. Dan seluruh lapisan pesantren telah sepakat kalau
keutuhan NKRI adalah harga mati, tidak bisa ditawar lagi.
Secara
historis pesantren juga menjadi kunci penting lahirnya bangsa Indonesia ,
segenap perjuangan telah dikerahkan demi memperjuangkan dan mempertahankan
kemerdekaan. Sepertiyang terjadi pada saat Agresi Militer II Belanda, pasukan
santri dibawah komando para kiyai terjun langsung dalam pertempuran di Surabaya
melewan tentara Belanda, pimpinan Jend. Mallaby. Ironis sekali kalau pesantren
berbalik arah, menghancurkan Negara ini.
Nilai
idiologis yang menancap dalam tubuh
pesantren tidak mudah goyah, meski usia pesantren tidak muda lagi dan derasnya
laju zaman, itu semua tidak menyebabkan pesantren kian jauh dari prinsip dasarnya.
Tudingan-tudingan miring pun lambat laun akan terpatahkan dengan sendirinya.
Yang dapat
diambil dari kesimpulan di lapangan, pesantren sama sekali tidak ada indikasi untuk
mengarah ke arah profokasi kekerasan, criminal, atau terorisme. Ini jauh dari
fakta yang ada. Ada beberapa factor :
Pertama,
dari segi idiologis pesantren lahir untuk kedamaian dan focus membentuk insane
yang kamil. Sebgaimana yang telah disinggung diatas. Kedua, pesantren
tidak diajrkan kurikulum yang berlwanan dengan negara/radikalisme. Ketiga,
sifat keramahan dalam pesantren menjadi symbol saejuknya kedamaian dalam
lingkungannya.
Islam tumbuh dari pesantren. Mengerti Islam berarti memahami nasionalisme. Islam mengajarkan nasionalisme yang tinggi. Maka, kedamaian dan ketentraman muncul dalam ranah pesantren, itu nyata!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar