Dunia
pendidikan dewasa ini menjadi momok yang penuh dengan problema yang mengitari.
Sisitem pendidikan yang konyol, nilai UAN yang terus dipertanyakan, mahalnya
biaya pendidikan, fasilitas kurang, dan setumpuk problema lain dengan jumlah
yang tidak sedikit. Dan, sebagai tonggak barometer sebuah bangsa, dewasa ini wanitia
kurang mendapat porsi dalam dunia pendidikan.
Pendidikan
adalah milik semua lapisan masyarakat, tak ada pengecualian disini. Seorang
perempuan pun, yang secara syar’i memiliki keterbatasan-keterbatasan juga wajib
untuk menikmati dan memperoleh pendidikan. Sebagaimana dawuh Nabi SAW “ Menuntut
ilmu itu hukumnya wajib bagi semua Muslim dam Muslimat”. Hadist di atas
secara eksplisit menggunakan qoyd wajib, Islam sangat menekankan kepada umatnya
untuk tidak tersesat dalam jurang kejahilan. Siapapun itu dan dalam kondisi
bagaimanapun. Kemudian ditegaskan dalam akhir hadist tersebut, bahwa kewajiban
menuntut ilmu itu juga tidak hanya bagi kaum Adam an sich.
Hal senada
juga dituangkan dalam Pasal
31 UUD ’45, (1)
Tiap-tiap Warganegara berhak mendapat pengajaran. (2) Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan suatu sistem
pengajaran nasional, yang diatur dengan Undang-undang. Namun, fakta berbicara lain, perempuan seolah termarjinalkan dalam dunia pendidikan. Terlebih paradigma yang menyebutkan bahwa perempuan hanya akan kembali ke dapur saja.
pengajaran nasional, yang diatur dengan Undang-undang. Namun, fakta berbicara lain, perempuan seolah termarjinalkan dalam dunia pendidikan. Terlebih paradigma yang menyebutkan bahwa perempuan hanya akan kembali ke dapur saja.
Kenapa
perempuan???
Masalah
perempuan selalu menjadi sebuah masalah yang pelik dan kompleks, mulai dari
mengenai sejarahnya, keberadaannya, kedudukannya, sampai pada ketidakadilan
yang selalu dialaminya. Semua ini bagai lilitan seutas benang merah yang tak
pernah berhenti melilitnya sepanjang zaman. Mengapa di sepanjang sejarah perempuan
selalu diperlakukan tidak adil?
Keterhinaan,
ketertindasan dan ketersiksaan merupakan fenomena yang sering kita lihat dalam
sejarah hidup perempuan, terlebih sebelum munculnya agama Islam. Dan
fenomena semacam itu mungkin saja masih bisa didapati
setelah munculnya Islam, meskipun tidak separah sebelum kemunculannya.
Islam membawa nilai-nilai
kemanusiaan yang tinggi, menempatkan
perempuan sesuai dengan kodratnya. Sejarah berkata, pada masa Yunani, yang mana
notabennya pada masa itu merupakan masa keemasan peradaban Barat, di mata
mereka perempuan adalah makhluk yang sangat hina, hanya sebagai pemuas nafsu
birahi belaka sebagai bentuk penjelmaan syaitan. Pada masa Romawi , perempuan dianggap makhluk yang tidak
memiliki ruh, mereka mempermainkannya seperti barang.
Namun, setelah cahaya
Islam datang, semua paradigma semacam itu perlahan lenyap. Islam tidak mengenal
adanya pembagian kasta atau diskriminasi yang bersifat gender. Tradisi jahiliyah perlahan luntur dan
perempuan kembali menemukan prestise. Islam membawa cahaya untuk menerangi seluruh
alam. Hingga dalam berbagai kasus juga
perempuan mendapatkan porsi yang istimewa dibanding laki-laki, sebagaimana
contoh perempuan yang sedang hamil diperbolehkan meninggalkan puasa ramadlan.
Hali ini karena memandang terhadap aspek pribadi yang ada dalam diri perempuan.
Robiah Adewiyah, Siti
Aisyah, RA Kartini merupakan sosok kuat yang mampu melampaui kodratnya. Mereka
membuka mata dunia, kalau perempuan juga tidak menjadi halangan untuk tetap
menikmati dunia pendidikan dan menjadi orang yang terdidik. Meski rasa haus
akan dunia pendidikan belum terpenuhi, mereka sudah bisa menjadi tolak ukur
untuk perempuan modern zaman sekarang. Keberhasilan mereka tidak akan tercapai
kalau mereka mengesampingkan pendidikan.
Bergeser ke perempuan
Indonesia, ternyata perempuan menjadi sorotan dari berbagai pihak pengamat
pendidikan. Karena dari hasil survey yang dilakukan, perempuan Indonesia yang
buta huruf memiliki jumlah yang cukup besar.
“Berdasarkan
data BPS, pada 2001 persentase perempuan buta huruf sebesar 14,54%, sedangkan
laki-laki hanya 6,87%. Pada 2002 angka buta huruf perempuan pada kelompok 10
tahun ke atas secara nasional mencapai 12,69% dan laki-laki hanya 5,85%.
Setahun berikutnya, angka buta huruf perempuan turun menjadi 12,28% sementara
laki-laki 5,84%. kata anggota DPR, yang juga aktivis perempuan Nadrah Azahari
dalam talk show Kartini’s Day bertema “Kartini, Mahasiswa, 2014” di Kampus IAIN
Walisongo Semarang,kemarin.
Dewasa ini, lembaga
pendidikan yang notabennya khusus untuk perempuan mulai dilirik, sebut saja
Akademi Kebidanan, dan keperawatan, lembaga ini memberikan keluasan bagi kaum
hawa utuk menikmati pendidikan. Dari tahun ke tahun peminatnya kian bertambah.
Dan penulis yakin angka buta huruf wanita Indonesia akan terus menurun. Semoga
saja.
Peran
perempuan
Dalam
kehidupan ini, perempuan sebenarnya memegang peran yang cukup besar. Namun,
peran tersebut bersifat abstrak. Sebagaimana sang pelatih yang mengatur para
pemainnya, perempuan pun memiliki peran yang signifikan untuk mencetak generasi
yang cerdas dan berakhlak.
Kehidupan
dalam keluarga merupakan titik awal untuk menuju kehidupan bernegara. Anak yang
terlahir dalam keluarga yang terdidik tentu akan berbeda nilainya dibandingkan
anak tanpa perhatian orangtuanya, khususnya ibu. Hal ini karena secara
psikologis perempuan memiliki sifat kasih sayang yang tinggi.
Seorang
perempuan, mampu mencetak putra bangsa sekaliber Bung Karno. Ini berarti
perempuan menjadi central dalam menentukan keberhasilan suatu bangsa. Perannya
sangat berarti, kiprahnya tak bias
dipandang sebelah mata. Benar sekali sabda nabi SAW, perempuan menjadi tolak
ukur kemajuan suatu bangsa.
Berawal
dari pendidikan di keluarga, permpuan mulai mengepakkan sayapnya. Start yang
sempurna akan mempengaruhi hasil ahir dalam suatu perlombaan. Di bawah ini poin
yang perlu menjadi catatan bagi seorang ibu untuk mencetak anak emas :
- Akidah
Pengetahuan yang pertama kali di kenalkan ke anak-anak kita adalah
seputar tauhid, yakni upaya sang anak untuk mengetahui dan meyakini akan Tuhan
semesta alam. Mereka harus memahami siapa yang memberinya kehidupan, yang
menciptakan mereka.
Akidah merupakan factor yang paling urgen dalam kehidupan ini. Wajar
saja jika Islam lebih memprioritaskannya. Karena iman merupakan fundamental
sekali. Oleh karenanya, dilandasi oleh akidah yang kuat, anak kan mengerti akan
kebenaran dan benteng akidah tidak akan goyah begitu saja di tengah liarnya
aliran yang muncul ke permukaan.
Anak harus diperkenalkan akidah secara
ijmali (global) dulu, yakni berupa penjelasan tentang akidah 50 yang
harus diketahui oleh setiap Mu’min dan rukun iman yang lainnya. Dengan harapan
semoga sifat kemanusiaan tidak semena lepas dari tubuhnya.
- Akhlak
Anak balita memiliki tingktat kecerdesan yang cukup tinggi untuk menagkap
sesuatu di lingkungannya. Kepekaan dan daya tangkap yang dimiliknya mampu
menirukan apa yang dilihat olehnya. Perilaku yang baik dari orang tua dalam
keseharian bisa menjadi factor utama dalam pengembangan karakter dan kpribadian
yang baik si balita.
Mulailah dari hal kecil, semisal membiasakan uluk salam ketika hendak
pergi dan bersalaman dengan orang tua, membaca basmalah sebelum makan,
mengggunakan tangan kanan ketika mengambil dan memegang sesuatu.
Akhlak merupakan sebuah karakter yang melekat dalam hati, kebiasaanlah
yang akan membentuknya. Maka, kondisi yang harmonis dalam lingkungan keluarga
diharapkan sekali demi terbentuknya senerasi yang bermoral dan bermartabat.
- Sholat
Ibadah adalah hal yang paling urgen dalam menjalin komuniksi dengan sang
Ilahi Rabbi, disamping kita juga tidk boleh mengesampingkan kehidupan social.
Ibadah yang paling mendasar adalah pengenalan tentang sholat di usia dini dan
diperlukan juga pembelajarang yang intens sejak dini. Dengan tujuan melatih
supaya terbiasa dan tidak terlalu berat ketika kita sudah dewasa.
Perhatian orang tua diharakan tidak hanya focus dalam pendiikan umum an
sich, pendidikan agama juga haru bisa diimbangi untuk membentuk generasi yang
bermoral seperti diatas. Diatas merupakan pondasi umum untuk mendidik sang buah
hati, diharapkan bias mencetak generasi yang berkpribadian Islam. Di samping
itu, pendidikan lainnya juga diperlukan.
Sekolah Gratis
Masyarakat
Indonesia telah lama mengidamkan pendidikan yang tidak perlu mengeluarkan biaya
sepeserpun, namun realita berbicara lain. Maish banyak teman-teman kita yang
putus sekolah, atau bahkan di usir dari sekolahnya hanya karena tidak mampu
membayar biaya wajib bulanan. Sungguh tragis memang, pendidikan seyogyanya bisa
dinikmati semua lapisan masyarakat. Tak terkecuali mereka yang kurang mampu.
Namun, pendidikan
gratis itu menurut penulis hanya bia di peroleh dalam lingkungan keluarga saja.
Tidak perlu mahal untuk menggaji guru, yakni Bapak atau Ibu kita. Mereka juga
layik dijadikan pahlawan tanpa jasa. Terutama yang paling urgen adalah
bagaimana dan seperti apa ibu memberikan pendidikan kepada sang anak. Karena rumah
merupakan tempat ideal bagi para pendidik sejati, dari situlah terlahir
generasi yang diharapkan kehadirannya di bumi pertiwi ini.
Pendidikan yang
setara semoga menjadikan permpuan bisa menunjukkan kiprahnya dalm ranah
pendidikan, saat ini kita kurang menyadari betapa besarnya peran perempuan
untuk mengubah bangsa. Pendidikan dan perempuan harus bisa satu garis lurus
dalam setiap l;angkahnya. Semoga apa yang telah diberikan perempuan untuk
mecetak generasi emas mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak dan perempuan
mampu menyulap anak menjadi sosok yang berpengaruh bagi kemjauan bangsa
tercimta ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar