Senin, 17 Oktober 2011

KITA MAU DIBAWA KEMANA


Beragam problematika seolah tak pernah henti menghinggapi bangsa kita. Demokrasi yang masih kotor, kemiskinan,terror bom,  dan penyakit tujuh turunan yakni korupsi. Rangkaian problematika itu sepertinya tak pernah surut dari bumi pertiwi. Dan menyusul salah satu birokrat kita yangmelakukan tindakan yang kurang pantas, seorang wakil rakyat ketahuan menonton video ‘gituan’.  Mau dibawa kemanakah negeri ini dalam genggaman mereka?
Berita ini sangat menghentakkan rakyat pada umumnya, ternyata gedung DPR tak lepas hanya menjadi tempat  pelarian mereka, istilahnya hanya numpang duduk dan kalaupun mendengarkan materi sidang mereka kebanyakan sambil tiduran juga masih dianggap baik. Kebutaan hati mereka tidak cukup sampai disitu, banyak ulah yang semestinya tidak patut dimiliki seorang pemimpin.
Zaman yang semakin transparan ini tidak bias menutupi kekotoran dan perilaku anggota yang diamanati rakyat tersebut, berkali-kali wartawan menjadi pahlawan dalam bidang ini. Kemerdekaan pers nampaknya tidak menjadikannya mawas diri.
Selama ini rakyat sudah mengecap jelek terhadap kinerja dan jejak perjuangan para pemimpin kita, karena hanya keburukan dan keburukan yang terus ditampakkan oleh mereka. Sehingga rakyatpun semakin enggan untuk berbicara jauh tentang pemerintahan kita. Dan kepercayaan yang selama ini dibebankan kepada para wakil rakyat diabaikan begitu saja. Kemanakah pemimpin yang berjuang tulus atas nama rakyat bersembunyi.
Teringat dengan dawuh sang guru Bangsa, “anggota DPR itu  seperti Taman Kanak-Kanak”. Ceplosan dari Gus Dur dengan nada yang merendahkan itu sampai saat ini masih teruji kebenarannya. Atau bahkan selamanya, kalau para pemimpin kita tidak mau sadar dan berubah. Rakyat tentunya menjadi saksi dalam kelakuan sehari-hari mereka di taman DPR tersebut, dan kalau disebutkan satu persatu akan menambah panjang deretan dosa penulis.
Moralitas bangsa yang kian terpuruk ternyata tidak hanya terjadi dalam kalangan kaum yang berpendidikan rendah saja, pun yang berpendidikan tinggi. Inikah produk pendidikan Indonesia. Nilai akhlak yang menjadi kebanggan orang timur sedikit demi sedikit sudah mulai pudar
RAKYAT SUDAH BISA MELIHAT
Rakyat sudah memahami tipe pemimpin kita saat ini,  sudah tidak terlalu ikut terjun dalam permasalahan ini. Ada uang kami jalan, gak ada uang kami tinggalkan.  Seperti itulah gambaran demokrasi negara kita, terlalu sempit memang kalau hanya digambarkan seperti itu. Tapi kenyataan berkata demikian, hubungan harmonis antara rakyat hanya terjadi hanya sesaat. Pada saat menjelang pemilu dan saat ada maksud tertentu. Itu saja.
Rakyat sudah tidak bisa tertipu lagi oleh perilaku manis orang terdidik tersebut,karena sudah bisa menonton dengan seksama dari barisan terdepan dan hanya bias mengelus dada ketika menyaksikan adegan-adegan yang dipertontonkan oleh mereka. Adegan itu membuat hati sebagian orang eneg dan bahkan muntah. Kadang rakyat juga merindukan tawa yang dulu pernah dijanjikan mereka. Mungkin kita harus menunggu lama untuk mendapatkan hak kita, terutama orang miskin.
Rentetan dosa yang tercipta dari para pemimpin kita sudah terlihat jelas dipelupuk mata, namun kita tidak boleh menyalahkan mereka terus-menerus. Meski sebenarnya hati kita sudah terlanjur sakit kala memikirkan keadaan sekarang. Positif thinking terhadap mereka. Semoga usaha yang mereka lakukan untuk mensejahterakan rakyatnya benar-benar terwujud, tanpa harus menunggu waktu yang lama.
Kadang memandang suatu problema dalam kehidupan ini hanya dari satu sudut saja, kita hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa mau bertanya apakah dirinya juga ikut berslah dalam masalah itu. Dan memang itu adalah watak manusia, gampang sekali menempelkan kata ‘salah’ dalam diri orang lain. Ini sebenarnya koreksi buat kita semua. Kesalahan dalam orang lai tidak usah digemborkan dan jadikan semua itu koreksi bagi kita untuk bisa melangkah yang lebih baik.
DICARI PEMIMPIN YANG  BERTANGGUNGJAWAB……!!!
Menjadi generasi muda saat ini menyisakan berbagai problematika yang kian bertambah. Dan sebagai penerus kita layaknya sudah bisa bercermin dan menentukan langkah yang terbaik bagi bangsa kita ke depan seperti apa. Pembelajaran demi pembelajaran menjadikan kita harus bisa berubah.
Cukup logis memang, sang proklamator kita, Bung Karno dalam dawuhnya “ kami membutuhkan 10 pemuda untuk mengubah bangsa ini”. Bangsa yang besar ini membutuhkan sosok yang bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dan kenerjanya, dan pemudalah yang menjadi tumpuan utama dalam merealisasikan tugas berat ini.
Pemuda yang berkualitas tidak lepas dari pendidikan yang berkualitas yang diterapkan dalam Negara ini. Sebatas mana pendidikan kita saat ini merupakan permasalahan lain lagi, yang bisa menguras pikiran. Pemuda tidak bisa terlepas dari dunia pendidikan. Ditengah-tengah keterpurukan dunia kependidikan kita saat ini, kita harus bisa berjuang dan memanfaatkan apa yang kita miliki.
Menjadi seorang pemimipin yang bertanggung jawab itu tidak mudah, tapi penulis percaya pemuda jaman sekarang tidak sedikit yang memiliki sifat seperti ini. Sosok yang bertanggungjawab terhadap rakyat dan kepemimpinanya yang pas untuk dijadikan suri tauladan adalah Nabi Muhammad SAW. Beliaulah pemimpin sempurna yang bisa dijadikan kiblat bagi calon pemimipin kita.
Mengurus suatu negara itu tidak semudah mengurus siswa satu kelas. Jutaan manusia dengan berbagai persoalaan yang diembankan dalam diri pemimpin kita tidak akan pernah habis, kita harus memahami itu. Sedikit demi sedikit semoga persoalan semakin hilang dalam tubuh bangsa kita. Semoga generasi penerus kita bisa merubah kebiasaan buruk para pemimpin kita saat ini. Dan bangsa ini terus merindukan sosok pemimpin yang bisa bertanggung jawab mengemban amanat rakyat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar