Beragam problematika seolah
tak pernah henti menghinggapi bangsa kita. Demokrasi yang masih kotor,
kemiskinan,terror bom, dan penyakit
tujuh turunan yakni korupsi. Rangkaian problematika itu sepertinya tak pernah surut
dari bumi pertiwi. Dan menyusul salah satu birokrat kita yangmelakukan tindakan
yang kurang pantas, seorang wakil rakyat ketahuan menonton video ‘gituan’.
Mau dibawa kemanakah negeri ini dalam
genggaman mereka?
Berita ini sangat
menghentakkan rakyat pada umumnya, ternyata gedung DPR tak lepas hanya menjadi
tempat pelarian mereka, istilahnya hanya
numpang duduk dan kalaupun mendengarkan materi sidang mereka kebanyakan
sambil tiduran juga masih dianggap baik. Kebutaan hati mereka tidak cukup
sampai disitu, banyak ulah yang semestinya tidak patut dimiliki seorang
pemimpin.
Zaman yang semakin transparan
ini tidak bias menutupi kekotoran dan perilaku anggota yang diamanati rakyat
tersebut, berkali-kali wartawan menjadi pahlawan dalam bidang ini. Kemerdekaan
pers nampaknya tidak menjadikannya mawas diri.
Selama ini rakyat sudah
mengecap jelek terhadap kinerja dan jejak perjuangan para pemimpin kita, karena
hanya keburukan dan keburukan yang terus ditampakkan oleh mereka. Sehingga
rakyatpun semakin enggan untuk berbicara jauh tentang pemerintahan kita. Dan
kepercayaan yang selama ini dibebankan kepada para wakil rakyat diabaikan
begitu saja. Kemanakah pemimpin yang berjuang tulus atas nama rakyat
bersembunyi.
Teringat dengan dawuh sang
guru Bangsa, “anggota DPR itu seperti
Taman Kanak-Kanak”. Ceplosan dari Gus Dur dengan nada yang merendahkan itu
sampai saat ini masih teruji kebenarannya. Atau bahkan selamanya, kalau para
pemimpin kita tidak mau sadar dan berubah. Rakyat tentunya menjadi saksi dalam
kelakuan sehari-hari mereka di taman DPR tersebut, dan kalau disebutkan satu
persatu akan menambah panjang deretan dosa penulis.
Moralitas bangsa yang kian
terpuruk ternyata tidak hanya terjadi dalam kalangan kaum yang berpendidikan
rendah saja, pun yang berpendidikan tinggi. Inikah produk pendidikan Indonesia.
Nilai akhlak yang menjadi kebanggan orang timur sedikit demi sedikit sudah
mulai pudar
RAKYAT SUDAH BISA MELIHAT
Rakyat sudah memahami tipe
pemimpin kita saat ini, sudah tidak
terlalu ikut terjun dalam permasalahan ini. Ada uang kami jalan, gak ada
uang kami tinggalkan. Seperti itulah
gambaran demokrasi negara kita, terlalu sempit memang kalau hanya digambarkan
seperti itu. Tapi kenyataan berkata demikian, hubungan harmonis antara rakyat
hanya terjadi hanya sesaat. Pada saat menjelang pemilu dan saat ada maksud
tertentu. Itu saja.
Rakyat sudah tidak bisa
tertipu lagi oleh perilaku manis orang terdidik tersebut,karena sudah bisa
menonton dengan seksama dari barisan terdepan dan hanya bias mengelus dada
ketika menyaksikan adegan-adegan yang dipertontonkan oleh mereka. Adegan itu
membuat hati sebagian orang eneg dan bahkan muntah. Kadang rakyat juga
merindukan tawa yang dulu pernah dijanjikan mereka. Mungkin kita harus menunggu
lama untuk mendapatkan hak kita, terutama orang miskin.
Rentetan dosa yang tercipta
dari para pemimpin kita sudah terlihat jelas dipelupuk mata, namun kita tidak
boleh menyalahkan mereka terus-menerus. Meski sebenarnya hati kita sudah
terlanjur sakit kala memikirkan keadaan sekarang. Positif thinking terhadap
mereka. Semoga usaha yang mereka lakukan untuk mensejahterakan rakyatnya
benar-benar terwujud, tanpa harus menunggu waktu yang lama.
Kadang memandang suatu
problema dalam kehidupan ini hanya dari satu sudut saja, kita hanya bisa menyalahkan
orang lain tanpa mau bertanya apakah dirinya juga ikut berslah dalam masalah
itu. Dan memang itu adalah watak manusia, gampang sekali menempelkan kata
‘salah’ dalam diri orang lain. Ini sebenarnya koreksi buat kita semua.
Kesalahan dalam orang lai tidak usah digemborkan dan jadikan semua itu koreksi
bagi kita untuk bisa melangkah yang lebih baik.
DICARI PEMIMPIN YANG BERTANGGUNGJAWAB……!!!
Menjadi generasi muda saat ini
menyisakan berbagai problematika yang kian bertambah. Dan sebagai penerus kita
layaknya sudah bisa bercermin dan menentukan langkah yang terbaik bagi bangsa
kita ke depan seperti apa. Pembelajaran demi pembelajaran menjadikan kita harus
bisa berubah.
Cukup logis memang, sang
proklamator kita, Bung Karno dalam dawuhnya “ kami membutuhkan 10 pemuda untuk
mengubah bangsa ini”. Bangsa yang besar ini membutuhkan sosok yang bertanggung
jawab dalam menjalankan tugas dan kenerjanya, dan pemudalah yang menjadi
tumpuan utama dalam merealisasikan tugas berat ini.
Pemuda yang berkualitas tidak
lepas dari pendidikan yang berkualitas yang diterapkan dalam Negara ini. Sebatas
mana pendidikan kita saat ini merupakan permasalahan lain lagi, yang bisa
menguras pikiran. Pemuda tidak bisa terlepas dari dunia pendidikan.
Ditengah-tengah keterpurukan dunia kependidikan kita saat ini, kita harus bisa
berjuang dan memanfaatkan apa yang kita miliki.
Menjadi seorang pemimipin yang
bertanggung jawab itu tidak mudah, tapi penulis percaya pemuda jaman sekarang
tidak sedikit yang memiliki sifat seperti ini. Sosok yang bertanggungjawab
terhadap rakyat dan kepemimpinanya yang pas untuk dijadikan suri tauladan
adalah Nabi Muhammad SAW. Beliaulah pemimpin sempurna yang bisa dijadikan
kiblat bagi calon pemimipin kita.
Mengurus suatu negara itu
tidak semudah mengurus siswa satu kelas. Jutaan manusia dengan berbagai
persoalaan yang diembankan dalam diri pemimpin kita tidak akan pernah habis,
kita harus memahami itu. Sedikit demi sedikit semoga persoalan semakin hilang
dalam tubuh bangsa kita. Semoga generasi penerus kita bisa merubah kebiasaan
buruk para pemimpin kita saat ini. Dan bangsa ini terus merindukan sosok
pemimpin yang bisa bertanggung jawab mengemban amanat rakyat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar