Sabtu, 15 Oktober 2011

Kesusastraan Pesantren yang Terpinggirkan


Pesantren merupakan suatu lembaga non formal yang masih berdiri tegak  di bumi Nusantara sejak zaman wali songo. Pesantren juga mengalami pasang surut seiring zaman.  Fokus pesantren yang mengkaji tentang keislaman yang dalam, menimbulkan persepsi dari masyarakat umum bahwa pesantren tidak menerima bahkan menolak keras perkembangan dunia luar. Hal ini merupakan persepsi yang salah besar. Bahkan kata kolot dan tradisionalis kerap lekat melekat di tubuh pesantren. 
Pesantren sebenarnya menerima dengan tangan terbuka terhadap kebudayaan dari luar asalkan hal tersebut menambahkan sifat positif dan tentunya tidak bersebrangan dengan Syara’. Nah, sekarang problematikanya apakah saat ini pesantren membuka diri dengan kesustraan  dari luar?

Secara histories, pesantren telah dikenalkan dengan dunia sastra sejak lama. Hal ini terlihat dari tumpukan kitab karya ulama salaf terdahulu yang bernilai sastra. Ulama salaf begitu pandai dan lihai memainkan bait demi bait dalam membungkus syair karya mereka. Berbeda dengan sastra Indonesia, syair arab harus mengikuti aturan/kaidah yang baku. Kaidah ini telah dijelaskan secara spesifik yang terangkum dalam ilmu Arudl. Ilmu ini juga diajarkan sebagian besar pesantren di tanah Jawa.

Syair berisi tentang beraneka ragam problema kehidupan, ada yang berbicara cinta, tarikat, sufi, duniawi dsb. Kemudian hal semacam ini ditransformasikan kedalam bahasa masing-masing oleh para kiyai/ulama terdahulu. Seperti yang pernah dilakukan oleh KH. Bisri Musthofa. Tapi, sayangnya kiyai salaf yang satu pemikiran dengan beliau sangat jarang sekali kita temukan. Kebanyakan kita terjebak dalam kungkungan sastra arab, dan hanya sekedar mengalih bahasakan saja. Sehingga gerak pemikiran mereka trerhenti sampai itu saja.
  
Sastra pesantren mengalami gelombang pasang surut.  Pada 1960-an muncul nama Syu’bah Asa, Fudoli Zaini dan beberapa nama yang bisa dianggap mewakili kaum santri. Pada tahun 1970-an muncul Emha Ainun Nadjib, protolan Pesantren Gontor dengan sajak-sajak religiusnya yang kental. Tahun 1980-an muncul K.H. Mustofa Bisri, Jamal D Rahman, Acep Zamzam Noor, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Abidah El-Khaleiqy dan lain-lain. Kemudian pada tahun 1990-an tampil Mathori A Elwa, Hamdi Salad, Nasruddin Anshory, Kuswaidi Syafi’ie dan lain-lain. Karya-karya mereka pada umumnya diwarnai nafas Islam ala pesantren. Sehingga pesan yang mereka bawa bernuansa keislaman yang sangat kentara. Meskipun mereka juga tidak menutup kemungkinan memakai backround umum, bukan pesantren.

Kemudian pergulatan sastra pesantren tidak sampai disini saja, era 97an Tante Afifah Afra dan sastrawan yang lain mendirikan FLP (Forum Lingkar Pena) yang mana forum ini menampung para sastrawan Muslim yang tercecer. Kehadiran forum ini sangatlah dinanti, terbukti hingga saat ini FLP sudah beranggotakan 8000an orang lebih dan sudah menelurkan lebih dari 1000 buku dan bekerja sama dengan 40 penerbit. Namun Anda tidak boleh tercengang dulu, komunitas ini terbuka untuk umum. Dalam artian sastrawan pesantren tulen yang bernaung dibawah FLP hanya berapa persen saja. Lagi-lagi orang pesantren kurang menunjukkan taringnya dalam dunia ini. Kita seharusnya tidak boleh kalah bersaing dengan orang-orang yang mengatasnamakan Islam, padahal dia tidak mendalami atu kurang mengenal Islam. Bukankah lebih baik kita mendirikan komunitas khusus sastra pesantren? Perlu kajian khusus dan perlu waktu tidak sebentar untuk merealisasikan ini semua. 

Pesantren sebenarnya bersikap welcome menghadapi semua kebudayaan yang masuk ke dalamnya. Hal Adogium yang menyatakan bahwa pesantren itu kolot, katro, ketinggaln zaman itu salah besar, dan omong kosong itu hanya keluar dari mulut orang yang tidak memahami pesantren sama sekali. Dia berujar tanpa memandang fakta yang ada.
  
Bagaimana selama ini kita memperlakukan “sastra” dalam tradisi pesantren? Bagaimana kita memandangnya? Seberapa besar perhatian kita pada aspek yang satu ini? - Masih sedikit dari kalangan kita sendiri yang memiliki perhatian terhadap tradisi sastra dalam konteks pesantren, baik masa lalu (sejarah) maupun sekarang. Dalam artian, tidak hanya pemeliharaan terhadap karya-karya sastra masa lalu yang telah ditulis leluhur kita, ataupun pengembangan tradisi sastra itu sendiri di hari ini.

Mengingat sejarah manis yang diukir para leluhur kita tentang dunia sastra pesantren entah hanya sebatas symbol saja seperti karya besar dari Buya Hamka atau merunut kebelakang lagi tentang penulisan epos tentang kepesantrenan seperti Serat Chentini, Tand Ampel dsb. Sejarah manis itu selayaknya kita lestarikan bersama supaya sastra yang berlatar belakang pesantren kian mendapatkan tempat di dunia sastra Indonesia.

Sastra pada dewasa ini dalam dunia pesantren belum mendapatkan tempat yang semestinya. Banyak dari kalangan santri yang masih menganggap sastra sebagai pelajaran haram, pelajaran yang dijauhi. Sisitem yang ada saat ini hanya mengandalkan suapan ilmu yang diserap dari kaum salaf, yakni metode menghafal dan memahami. Tidak dikembangkan demgam naik ilmu yang ada dalam pesantren.

Maukah pesantren dicuri oleh para sastrawan yang sama sekali tidak mengerti pesantren, yang mencoreng nama pesantren lewat karya murahannya. Dimana para sastrawan pengikut Gus Mus??? Rupanya kita masih takut dikatakan melenceng dari tradisi ulama salaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar