Pesantren merupakan suatu lembaga non formal yang
masih berdiri tegak di bumi Nusantara
sejak zaman wali songo. Pesantren juga mengalami pasang surut seiring
zaman. Fokus pesantren yang mengkaji
tentang keislaman yang dalam, menimbulkan persepsi dari masyarakat umum bahwa
pesantren tidak menerima bahkan menolak keras perkembangan dunia luar. Hal ini
merupakan persepsi yang salah besar. Bahkan kata kolot dan tradisionalis kerap
lekat melekat di tubuh pesantren.
Pesantren sebenarnya menerima dengan tangan
terbuka terhadap kebudayaan dari luar asalkan hal tersebut menambahkan sifat positif
dan tentunya tidak bersebrangan dengan Syara’. Nah, sekarang problematikanya
apakah saat ini pesantren membuka diri dengan kesustraan dari luar?
Secara histories, pesantren telah dikenalkan
dengan dunia sastra sejak lama. Hal ini terlihat dari tumpukan kitab karya
ulama salaf terdahulu yang bernilai sastra. Ulama salaf begitu pandai dan lihai
memainkan bait demi bait dalam membungkus syair karya mereka. Berbeda dengan
sastra Indonesia, syair arab harus mengikuti aturan/kaidah yang baku. Kaidah
ini telah dijelaskan secara spesifik yang terangkum dalam ilmu Arudl. Ilmu ini
juga diajarkan sebagian besar pesantren di tanah Jawa.
Syair berisi tentang beraneka ragam problema
kehidupan, ada yang berbicara cinta, tarikat, sufi, duniawi dsb. Kemudian hal
semacam ini ditransformasikan kedalam bahasa masing-masing oleh para kiyai/ulama
terdahulu. Seperti yang pernah dilakukan oleh KH. Bisri Musthofa. Tapi,
sayangnya kiyai salaf yang satu pemikiran dengan beliau sangat jarang sekali
kita temukan. Kebanyakan kita terjebak dalam kungkungan sastra arab, dan hanya
sekedar mengalih bahasakan saja. Sehingga gerak pemikiran mereka trerhenti
sampai itu saja.
Sastra pesantren mengalami gelombang pasang
surut. Pada 1960-an muncul nama Syu’bah
Asa, Fudoli Zaini dan beberapa nama yang bisa dianggap mewakili kaum santri.
Pada tahun 1970-an muncul Emha Ainun Nadjib, protolan Pesantren Gontor dengan
sajak-sajak religiusnya yang kental. Tahun 1980-an muncul K.H. Mustofa Bisri,
Jamal D Rahman, Acep Zamzam Noor, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Abidah El-Khaleiqy
dan lain-lain. Kemudian pada tahun 1990-an tampil Mathori A Elwa, Hamdi Salad,
Nasruddin Anshory, Kuswaidi Syafi’ie dan lain-lain. Karya-karya mereka pada
umumnya diwarnai nafas Islam ala pesantren. Sehingga pesan yang mereka bawa
bernuansa keislaman yang sangat kentara. Meskipun mereka juga tidak menutup
kemungkinan memakai backround umum, bukan pesantren.
Kemudian pergulatan sastra pesantren tidak
sampai disini saja, era 97an Tante Afifah Afra dan sastrawan yang lain
mendirikan FLP (Forum Lingkar Pena) yang mana forum ini menampung para
sastrawan Muslim yang tercecer. Kehadiran forum ini sangatlah dinanti, terbukti
hingga saat ini FLP sudah beranggotakan 8000an orang lebih dan sudah menelurkan
lebih dari 1000 buku dan bekerja sama dengan 40 penerbit. Namun Anda tidak
boleh tercengang dulu, komunitas ini terbuka untuk umum. Dalam artian sastrawan
pesantren tulen yang bernaung dibawah FLP hanya berapa persen saja. Lagi-lagi
orang pesantren kurang menunjukkan taringnya dalam dunia ini. Kita seharusnya
tidak boleh kalah bersaing dengan orang-orang yang mengatasnamakan Islam,
padahal dia tidak mendalami atu kurang mengenal Islam. Bukankah lebih baik kita
mendirikan komunitas khusus sastra pesantren? Perlu kajian khusus dan perlu
waktu tidak sebentar untuk merealisasikan ini semua.
Pesantren sebenarnya bersikap welcome
menghadapi semua kebudayaan yang masuk ke dalamnya. Hal Adogium yang menyatakan
bahwa pesantren itu kolot, katro, ketinggaln zaman itu salah besar, dan omong
kosong itu hanya keluar dari mulut orang yang tidak memahami pesantren sama
sekali. Dia berujar tanpa memandang fakta yang ada.
Bagaimana selama ini kita memperlakukan
“sastra” dalam tradisi pesantren? Bagaimana kita memandangnya? Seberapa besar
perhatian kita pada aspek yang satu ini? - Masih sedikit dari kalangan kita sendiri yang memiliki
perhatian terhadap tradisi sastra dalam konteks pesantren, baik masa lalu
(sejarah) maupun sekarang. Dalam artian, tidak hanya pemeliharaan terhadap
karya-karya sastra masa lalu yang telah ditulis leluhur kita, ataupun
pengembangan tradisi sastra itu sendiri di hari ini.
Mengingat sejarah manis yang diukir para
leluhur kita tentang dunia sastra pesantren entah hanya sebatas symbol saja
seperti karya besar dari Buya Hamka atau merunut kebelakang lagi tentang
penulisan epos tentang kepesantrenan seperti Serat Chentini, Tand Ampel dsb.
Sejarah manis itu selayaknya kita lestarikan bersama supaya sastra yang
berlatar belakang pesantren kian mendapatkan tempat di dunia sastra Indonesia.
Sastra pada dewasa ini dalam dunia pesantren
belum mendapatkan tempat yang semestinya. Banyak dari kalangan santri yang
masih menganggap sastra sebagai pelajaran haram, pelajaran yang dijauhi.
Sisitem yang ada saat ini hanya mengandalkan suapan ilmu yang diserap dari kaum
salaf, yakni metode menghafal dan memahami. Tidak dikembangkan demgam naik ilmu
yang ada dalam pesantren.
Maukah pesantren dicuri oleh para sastrawan
yang sama sekali tidak mengerti pesantren, yang mencoreng nama pesantren lewat
karya murahannya. Dimana para sastrawan pengikut Gus Mus??? Rupanya kita masih
takut dikatakan melenceng dari tradisi ulama salaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar