Jujur saja, aku merasa bersalah
terhadap diriku. Aku belum bisa menjadi pemimpin bagi diriku sendiri, apalagi
untuk mempin orang lain, nonsens. Kapan
semua dosa yang ku istiqomahkan itu berahir,
aku sudah capek dan berusaha untuk merayu diri ini. Namun, dia tidak mau
di ajak bicara. Salahkah daku? Apa salahku, diam-diam ku tanyakan ini pada
diriku, pada hatiku sendiri.
Lagi-lagi nafsu menang dan
terdepan merasuk ke dalam kalbu, sudah jadi setankah ku? Atau bahkan iblis
telah menjadi imamku…. Nau’dzubillah. Jangan sampai semua itu terjadi padaku.
Nafsu, sampai sini saja pertemanan kita,
aku menyesal telah mengenalmu, bahkan telah jauh. Semakin jauh aku tidak
mengenal diriku, dan tentunya Tuhanku. Aku inigin lepas dari jeratanmu,
nafsu,,,,,,,
Lepaskan dan sudahlah cukup
sampai disini saja kau menjadi asistenku. Aku ingin pergi mencari kedamain dan
kebahagiaan sejati, yang bersifat abadi. Maaf kan ku nafsu, aku tidak akn
menyapamu lagi. Aku muak dilihat dan apalagi melihatmu.
Aku sudah lupa, ada satu sisi
dalam tubuh ini yang sering aku lupakan, bahkan aku kubur dalam-dalam. Yakni
kesdaran. Sudah hilang kesadaranku, karena mengenal nafsu. Namun aku minta
dengan sangat, ‘Sadar’ kembalilah dalam hidupku. Aku pengin kau selalu
mendampingi hidupku, dalam kondisi apapun. Entah senang, duka, lara atau
keadaan yang membuat hati manusiawinya terbang. Aku ingin kau tetep menemaniku,
sampe kapanpun¸ sadarrrrrrrrrrrrrrrrrrrr……….
Tapi, kadang sadar jarang sekali
menghampiri hidupku. Entah karena perilaku bejatku yang selama ini aku
istiqomahkan, atau mungkin aku terlanjur
akrab dengannya. Ahhh, apa boleh buat. Kini ku terus berlari dan berlari sejauh
mungkin untuk mencari dimana keberadaan sadar. Ku memang telah melecehkan dan
menyeplehkannya disaat antara kita bertemu. Maafkan sadarrrr, ku kan mencarimu
hingga kau kan memahami sebenarnya apa yang ku cari ada pada dirimu, saat ini
dan selamanya...
Ku kenang masa indah bersamamu
dan ku bingkai hubungan ini menjadi hiasan yang enak sekali untuk dipandang.
Hingga ku temukan sang pemilik segala keindahan. Ku terpesona dibuatnya. Ku
mabuk karenanya. Dan ku jatuh cinta sedalam-dalamnya. Karena yang ku cari
adalah keindahan diatas keindahan.
Tak mampu rasio ini menjangkau
seberapa besar keindahan yang dimilikiNya. Dari barat ke timur berjubel
keindahan, dari utara ke selatan juga lebih berjubel lagi keindahnnya. Dari
udara yang berhembus tertiup keindahan. Hmmmm, semua keindahan selalu
mengandung asmaNya. Sampai kapanpun keindahan milikNya tak kan pernah habis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar