Pernahkah kalian membayangkan hidup seorang diri di hutan belantara,
tanpa ada satupun yang bisa diajak bicara, tanpa ada yang bisa diminta bantuan.
Betapa sepi dan tak bergairah menjalani hidup. Maka hiduplah bersama orang
lain, untuk orang lain, dan ada untuk yang lain.
Sebuah coretan kecil yang terinspirasi dari sang ayah. Tiap hari ku cba
renungkan perilaku ayah, mencoba untuk memahami jalan pikirannya. Sanubari
sedikit berkata, yang paling ku suka dari ayah adalah rasa sosialnya yang
tinggi kepada masyarakat sekitar. Yang mungkin jarang dimiliki orang lain adalah
beliau suka membantu orang yang sedang hajatan. Entah pernikahan, sunatan, atau
event lain.
Sepele memang, namun keringat yang mengucur di sekujur badannya
menandakan meluapnya rasa ikhlas dalam hati beliau, tak sepeserpun di dapat.
Mungikin, dengan membantu sedikit yang dimiliki bisa mengurangi bebam orang
yang sedang membutuhkan.
Itulah sekelumit kisi hikmah yang akan di bahas kali ini, ada dawuh
kanjeng Nabi yang sederhana namun memiliki penjabaran yang luas. Sabda beliau “Insan
yang terbaik adalah mereka yang bisa bermanfaaat bagi orang lain”.
Kalau kita maknai bermanfaat dengan arti yang sempit, maka
kemanfaatan yang bisa dihasilkan juga akan menjadi kecil. Tapi kalu kita bisa
menggali daya kita untuk membantu sesama maka akan menjadi niali yang besar
dihadapan manusia dan juga Allah tentunya. Manfaat disini dalam arti mutlak,
dalam bentuk apapun.
Manusia yang terlahir ke dunia ini memiliki kelebihan tersendiri yang
mungkin tidak ada dalam diri orang lain. Kemampuan yang sudah tertanam dalam
diri hendaknya bisa dimanfaatkan dengan
sebaiknya dan kita tularkan kepada orang lain. Itu yang lebih baik. Entah
kemampuan tersebut kecil apalagi besar.
Berbicara kemanfaatan, tentunya manusia memiliki kapasitas dan jenis
yang berbeda antara satu dengan yang lain. Telah disinggung diatas, bahwa
manusia juga memiliki kelebihan yang berbeda-beda. Seorang penulis akan gemar
berbagi ilmu lewat jalur karya tulisnya, seorang hartawan akan membantu dengan
harta yang dimilikinya, semua berdasarkan kemampuan dan kelebihan orang itu.
Kelebihan yang dimiliki hendaknya dijadikan sebuah tanda syukur kepada
sang pemberi nikmat. Caranya beraneka ragam, salah satunya memberikan sedikit
kemanfaatan kepada orang lain.
Seluruh hidup gus Dur di persembahkan untuk Indonesia, Islam, dan NU.
Bagaimana dengan Anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar